Senin, 26 Oktober 2009

Logika Sederhana Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif


Abdul Malik Karim Amrullah

Dalam dunia akademik di negeri kita tercinta ini seringkali kita diributkan dengan dua istilah tersebut diatas yaitu penelitian kualitatif dan kuantitatif. Yang kuantitatif mengklaim bahwa semua yang berkaitan dengan angka ya pasti berkaitan dengan kuantitatif sedangkan penelitian kualitatif mengklaim pokoknya yang berkaitan dengan penelitian-penelitian sosial yang bersifat analisis sosial dan lain sebagainya ya pastilah itu penelitian kualitatif. Selain itu juga para peneliti kuantitatif seringkali mengklaim bahwa penelitian dengan pendekatan inilah yang betul-betul mendekati kebenaran dan juga seakan-akan mereka menjustifikasi bahwa para peneliti kuantitatif lebih “hebat” logikaberfikirnya dan lain sebagainya, sedangkan para peneliti kualitatif tidak mempunyai logika berfikir yang “hebat”, mereka cenderung banyak mengolah kata-kata, kalimat-kalimat yang semestinya kesimpulannya hanya singkat jadi diolor-olor sehingga kerap kali penelitian kualitatif mesti laporannya panjang lebar dan lain sebagainya.

Obrolan dan perdebatan semacam ini sebenarnya menguras tenaga pikiran kita yang semestinya dari kedua belah pihak tidak usah mengolor-olor perdebatan kusir yang tak ada ujungnya ini.

Sekarang coba kita menelusuri logika berfikir antara keduanya. Kita mulai dari bagaimana proses ilmiah yang terjadi artinya proses kegiatan yang memproduksi ilmu pengetahuan yaitu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta. Jadi manusia akan memperoleh pengetahuan jika dia memulai kegiatannya dengan mengamati fakta terlebih dahulu kemudian dia mulai mengklasifikasi fakta tersebut menjadi kategorisasi-kategorisasi yang dia susun sendiri kemudian ia tarik sebuah pernyataan hukum setelah itu muncullah definisi tentang fakta baru yang dia temukan tadi dengan definisi yang sesuai dengan sifat-sifat fakta tersebut. Fakta-fakta diamati oleh manusia itu sifatnya partikular, karena dia adalah bagian-bagian dari fakta-fakta yang ada di seluruh alam raya ini sedangkan definisi itu sifatnya general, karena dia merupakan justifikasi atau kesimpulan akhir dari kumpulan beberapa fakta yang ada. Logika ini yang kemudian dikenal dengan logika induktif yang pada akhirnya dijadikan sebagai logika dari penelitian kualitatif. Artinya penelitian kualitatif sebenarnya mencari generaliasi dari fakta-fakta partikular teramati dan teranalisis tersebut. Jadi sebenarnya penelitian kualitatif merupakan penelitian yang memproduksi teori bukan menguji teori. Teori dihasilkan ketika ada penelitian kualitatif.

Sedangkan penelitian kuantitatif sebenarnya hanya menguji teori apakah teori yang dihasilkan oleh peneliti kualitatif itu benar atau tidak sehingga ada asumsi atau bahkan bisa saja hipotesa atau dugaan sementara. Cara pengujiannya sebenarnya sangat sederhana yaitu hanya menguji definisi apakah benar definisi tersebut. Contohnya, definisi tentang manusia.
Manusia adalah makhluk yang berfikir, itu artinya apakah benar seluruh makhluk berfikir adalah manusia. Hal itu bisa disimbolkan dengan (M = M F). M itu artinya manusia, sedangkan MF artinya adalah mahluk berfikir, sedangkan simbol( =) merupakan definisi atau representasi dari kalimat “adalah”. Jadi kalau istilah (Manusia adalah makhluk berfikir) disimbolkan dengan (M=MF), kalau M itu bernilai 1, maka MF harus 1 (M = MF) artinya (1 = 1) tidak boleh (1 = 2), sehingga jika ada definisi manusia adalah makhluk hidup yang berfikir ketika dilakukan pembalikan pernyataan harus sama dengan yang didefinisikan, jadi harusnya “seluruh makhluk berfikir adalah manusia”, jika pernyataan tersebut dibalik lantas malah memperkuat entitas yang didefinisikan tersebut itu berarti definisi tersebut benar sesuai dengan hipotesis sebelumnya.

Logika berfikir semacam ini disebut dengan logika deduktif yaitu cara berfikir dimulai dari sesuatu yang general setelah itu mengurai menjadi sesuatu yang khusus (partikular). Sesuatu yang bersifat general merupakan definisi atau teori yang dilakukan penguraian dengan cara menguji definisi tersebut sehingga definisi tersebut menjadi indikator dari yang didefinisikan. Misalnya definisi tentang manusia adalah makhluk berfikir, maka makhluk berfikir tersebut merupakan indikator dari manusia bukan indikator dari makhluk selain manusia. Logika ini yang kemudian dipakai oleh penelitian kuantitatif.


Fakta-----Induksi------Teori------Deduksi-----Masalah------Pengujian-----Fakta


Logika ini sebenarnya jika kita pahami akan mempermudahkan pembelajar untuk belajar penelitian kuantitatif dan kualitatif.

Senin, 16 Maret 2009

Konsep tentang Realitas dan Implikasinya terhadap metodologi Penelitian

Reality atau realitas atau kenyataan atau dalam bahasa arabnya al-Haqiqah, seringkali menjadi perbincangan baik di masyarakat, sekolah sampai diperbincangkan dalam forum ini.

Dalam kamus Webster's II yang kebetulan gue dikasih waktu pertama kali datang ke Bradfoard ditemukan makna "reality" sebagai "The Quality or state of being actual or true atau one that is real atau bisa bermakna the totality of all existing things" (lihat Webster; 569) Siapa saja mungkin akan berbeda menterjemahkannya akan tetapi secara esensial akan terjadi pemaknaan yang sama yaitu sesuatu (kualitas) yang aktual atau yang mengada. jika kita mengatakan apakah ada Mulan Jameela(padahal Mulan Jameela tidak ada disitu), maka pertanyaan tersebut tentu akan dijawab ada, meskipun Mulan Jameela tidak ada disitu.Pertanyaan seperti adalah pertanyaan dalam kategori konsepsi yang masih berupa kualitas, artinya Mulan Jameela "ada" tapi tidak meng"ada" (existing). Nah, jika Mulan Jameela ada di dalam kontek pernyataan itu, maka Mulan Jameela itu ada (kualitas) dan jugameng"ada" (existing).

Realitas sebagaimana yang disebutkan diatas sudah barang tentu sesuatu yang "ada" dan meng"ada". Dia adalah sesuatu yang tangible mampu dipahami, mampu dilihat, mampu disentuh jadi sesuatuyang betul-betul ada. Namun, sebagian para filsuf mempunyai pandangan yang berbeda tentang reality. Ada yang memahami bahwa reality is producted by mind dan filsuf yang lain memandang bahwa reality is given out there.

Nah,perbincangan ini semakin menarik, karena ternyata ada dualitas konsepsi yang berbeda memandang realitas.Coba kita mulai mendiskusikan kedua hal tersebut.

Pertama, reality is producted by mind. Pandangan ini menyatakan bahwa realitas sebenarnya dikonstruksi oleh pikiranmanusia, dia ada karena manusia mengkontruksinya, jika manusia tidak mengkonstruksinya, maka reality itu tidak ada, contohnya, jika seorangakan merencanakan sesuatu pekerjaan yang sudah dia tuangkan dalam sebuah blueprint berupa jadwal pekerjaan, maka jika dia tidak menjalankan pekerjaan itu, tentu pekerjaan itu tidak bakalan wujud,tidak bakalan aktual atau bahasa kasarannya tidak akan meng"ada".Seorang arsitek yang mau membangun rumah, dia pasti akan membuat rancang bangun dalam blueprint nya, maka jika dia tidak membangun rumahtersebut sudah barang tentu dia (rumah itu) hanya sebatas konsep doang. Rumah itu hanya ada dalam benak pikirannya si arsitek tersebut, rumah itu tidak akan aktual. Jadi yang menjadi instrumen utamanya adalah pikiran manusia itu sendiri atau seringkali kita kenal sebagai subjectivity. Madzhab reality ini disebut sebagai madzhab idealism, salah satu penganutnya adalah Plato. Madzhab ini mungkin lebih menarik lagi jika kita kaitkan dengan metodologi penelitian yang sekarang kita sebagai mahasiswa kandidat doktor sering mempelajari ini.

Dalam metodologi penelitian setidaknya ada dua macam yaitu kuantitatif dan kualitatif. jika kita kaitkan pemahaman reality yang pertama, maka tampak ada persamaan dengan metode kualitatif dimana sipeneliti sebagai instrumen utama untuk melakukan justifikasi tentang reality.Seorang peneliti akan menyatakan bahwa realitas itu benar-benar ada,riil, sahih (valid), reliable dan lain sebagainya ditentukan oleh peneliti itu sendiri (meskipun masih menyaratkan justifikasi oranglain, akan tetapi peneliti sebagai key instrumen), penelitian kualitatif lebih membangun subyektivitas daripada obyektivitas, artinya jika subyek menyatakan sesuatu, maka obyek itu akan hadir,akan wujud atau akan meng"ada".

Madzhab yang kedua, menyatakan bahwa "reality is given out there".Jadi realitas itu benar-benar ada, bukan hasil konstruksi manusia. Dia betul-betul wujud, dia ada dan meng"ada". Sebuah batu misalnya, dia merupakan realitas yang nyata, memang dia sendiri ada, dia meng"ada"karena dia memproses dirinya menjadi sebuah batu. Sebatang pohon, dia memang betul-betul ada, wujud dan dia memang memproses dirinya untuk meng"ada" menjadi sebuah kayu. Madzhab ini dikenal dengan realisme, penganutnya adalah Aristoteles.

Nah, jika kita kaitkan dengan metodologi penelitian, maka lebih pas ke arah kuantitatif, karena diamembangun objectivity, artinya yang berhak menjustifikasi dirinyaadalah obyek itu sendiri, bukan subyek. karena obyek itu benar-benarada, dia (obyek) mempunyai otoritas untuk menyatakan dirinya sendiri.Pada dasarnya kuantitatif itu mengukur seberapa obyektif si obyek itu. Kalau obyeknya manusia, maka yang berhak menyatakan dia obyektif adalah dirinya sendiri (maksudnya obyek itu sendiri), bukan si peneliti tapiyang diteliti.

Dua pandangan besar ini akhirnya menjadi perdebatan yang sangat dikotomik, bahkan akhir-akhir saling menyalahkan satu dengan yanglainnya. Ada beberapa usaha untuk menjadikan keduanya, untuk duduk bersama dan saling mengisi satu sama lain. Kalau dalam penelitian ini ada usaha untuk mixing antara keduanya. Namun, permasalahannya adalah dasar mixing itu sendiri itu dari sisi mana. Nah, ini sampai sekarangmasih dicari terus sampai saat ini penulis belum menemukan dasar ini.Tolong ya...jika ada temen-temen yang sudah menemukan landasanberpikir mixing itu dikasih saya....bagi-bagi ilmu ya....thanks Wallahu A'lam. --- End forwarded message ---

Silabus Filsafat Pendidikan Islam

Dosen Pengampu : Abdul Malik Karim Amrullah
Semester : IV
Fakultas : Tarbiyah
Jurusan : IPS


1. Definisi fisafat, filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan Islam
2. Ruang lingkup filsafat pendidikan Islam
3. Obyek material dan obyek formal
4. Metode mempelajari filsafat pendidikan Islam
5. hakikat manusia sebagai makhluk pedagogis menurut Islam
6. Sumber dasar pendidikan Islam, Hakekat tujuan dan fungsi pendidikan Islam
7. Aliran-aliran filsafat pendidikan Islam dan barat
8. Konsep Pendidikan menurut Islam : Tarbiyah, ta'lim dan ta'dib,
9. Kepribadian muslim dan cara-cara pembentukannya
10. Peta Filsafat Pendidikan Islam Indonesia
11. Konsep (falsafah) Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam :
a. Hakikat Madrasah
b. Landasan ideal madrasah di Indonesia
c. Landasan operasional madrasah di Indonesia
12. Falasafah pesantren, Hakikat (pengertian) pesantren, Tujuan pesantren
13. Eksistensi Perguruan Tinggi Islam di Indonesia : landasan ideal dan operasional, tujuan didirikan perguruan tinggi Islam
14. Konsep ulul albab, Pengembangan Kurikulum Ulul Albab UIN Malang, Penjabaran Ulul Albab

Silabus Filsafat Islam

Silabus Filsafat Islam

Standar Kompetensi
Mahasiswa mampu memahami filsafat Islam beserta sejarahnya

1. Pengertian Filsafat Islam ; sejarah dan perkembangannya
2. Filsafat, ilmu dan agama
3. Kontribusi para filsuf muslim terhadap pemikiran barat modern
4. Nalar-nalar Islam
5. Era kemunduran filsafat Islam
6. Al-Kindi tentang Tuhan dan Manusia
7. Al-Farabi tentang Tuhan dan manusia
8. Ibnu Sina Tuhan, alam dan manusia
9. Ibnu Maskawaih riwayat hidup dan pemikirannya tentang akhlak
10. Al-Ghazali; riwayat hidup dan pemikirannya tentang akhlak dan pendidikan
11. Suhrawardi ; riwayat hidup dan pemikirannya tentang epistemologi
12. Ibnu Rusyd; riwayat hidup dan pemikirannya tentang Tuhan, alam dan manusia
13. Mula sadra riwayat hidup, karya dan pemikirannya tentang epistemologi
14. Ibnu Thufail; riwayat hidup dan pemikirannya

Bacaan
a. Al-Ghazali, 1972, Tahafuthul Falasifah, beirut, dar kutub al-Araby
b. Al-Ghazali, ihya’ ulum aldin, beirut, dar kutub al-araby
c. Ibnu Rusyd, tt, tahafuthul al-tahafuth, Mesir, dairat al-maarif
d. A. Mustafa, filsafat Islam untuk fakultas Tarbiyah, dakwah dan ushuludin
e. Abdul qadir jaelani, filsafat Islam, surabaya, bina ilmu
f. Ahmad hanafi, pengantar filsafat Islam, bulan bintang jakarta
g. Al-Ahrawai, filsafat Islam, pustaka firdaus
h. Irma fatimah, filsafat Islam, ontologi, epistemologi dan aksiologi, yogyakarta, LESFI
i. Muhammad yasir Nasution, Manusia menurut al-Ghazali, Jakarta, rajawali pers




Standar Makalah

1. Makalah diharuskan memakai referensi minimal 5 referensi

2. Dari setiap referensi mahasiswa diharuskan melampirkan kopi sampul buku serta halaman buku yang dikutip

3. Semua makalah dikumpulkan secara bersamaan pada saat ujian tengah semester dan disajikan (dipresentasikan) sesuai kelompok yang sudah terbentuk

Jumat, 06 Februari 2009



Perbedaan dan dinamika kelompok....

Selama saya study di Indiana University, kerapkali saya menemukan perbedaan baik yang bersifat personal, kelompok, internal maupun eksternal. Perbedaan yang bersifat personal bisa berupa konflik batin antara saya dengan sesuatu diluar kendali saya. Kadang sesuatu yang diluar kendali saya itu mengajak kearah kebaikan kadang menyesatkan.

Perbedaan selanjutnya yang seringkali saya jumpai adalah bersifat kelompok. Fenomena ini juga sangat complicated untuk dipahami, ada yang ingin melakukan sesuatu yang lain daripada yang lain. Kelompok ini selalu mencoba melakukan perbuatan yang bersifat sensasional. Biasanya kelompok ini menciptakan simbol-simbol baru yang belum pernah diketahui orang, sekalipun kadang dia juga tidak paham sepenuhnya dengan simbol itu. Ungkapan ini tidak ditujukan untuk menilai baik atau jelek akan tetapi hanya untuk memotret dari kacamata yang cukup jauh agar dapat disaksikan dan dimaknai secara lugas.

Ada kelompok yang melakukan perbuatan "konservasian". Kelompok ini selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang bersifat rutinitas yang itu memang menjadi tradisi kelompok ini. Kelompok ini biasanya sangat kuat sekali berpegang teguh pada prinsip, nilai yang selama ini dia anut meskipun akhirnya dia menyiasatinya untuk bisa meninggalkan prinsip, nilai dengan melakukan "apologisasi" argumen yang dia bangun itu.

Kemudian ada juga kelompok yang ingin menjadi penengah. Kelompok ini mencoba untuk mencari situasi yang aman, mencoba memahami segala sikap dan perbuatan kelompok yang ada diluar dirinya dengan cara yang sangat obyektif menurut dirinya, meskipun sebenarnya memahami dengan cara yang sangat obyektif menurut dirinya sendiri itu sebenarnya masih tergolong subyektif, tapi kelompok ini tidak sadar bahwa dirinya masih subyektif. Perbuatan yang biasanya diaktualkan adalah menjadi juru bicara orang lain, menjadi penengah, menjadi penerang dan anehnya kelompok yang diberikan penerang oleh kelompok ini akhirnya menerima juga meskipun dalam hatinya dia hanya tertawa terbahak-bahak....hahahahaha


Harapan saya yang terakhir adalah....

Tulisan ini saya buat, karena saya merasa semakin kita menatap jauh sebuah harapan, maka yang terasa adalah rasa keinginan untuk mencapai serta rasa keputusasaan untuk menggapainya. Dua perasaan ini yang sangat dominan ketika kita menatap sebuah harapan. Harapan merupakan sebuah kata yang sangat unik, dia bisa meluncur seperti anak panah yang menghujam ke "dada" manusia, yang membuat manusia mempunyai semangat tinggi dan juga membuat manusia lunglai tak berdaya dibuatnya, karena dia akan langsung mencabik-cabik perasaan manusia yang sudah lama menunggu sebuah harapan.

Harapan, banyak orang yang menunggunya....banyak orang mencemaskannya...

Saya sebenarnya menanti sebuah harapan yang sangat indah yaitu bisa melewati hari-hari dengan perasaan yang tenang meskipun dalam situasi yang bagaimanapun saya menanti harapan itu mengajakku ke arah manapun harapan itu mengajak saya.

Untuk bisa melewati hari-hari dengan perasaan yang tenang, tentu saja saya mempunyai harapan lagi yaitu dengan cara melakukan apa saja yang saya sukai.

Untuk bisa melakukan apa saja yang saya sukai, tentu saja saya mempunyai harapan yaitu apa saja yang saya sukai tidak dilarang.

Agar sesuatu itu tidak dilarang, maka saya mempunyai harapan yaitu sesuatu yang tidak dilarang itu tidak mempunyai lawan kalimat yaitu sesuatu yang dilarang, karena kalau ada lawan kalimat seperti itu, maka harapanku untuk mendapatkan sesuatu yang tidak dilarangpun masih terhambat karena ada sesuatu yang dilarang.

Agar tidak ada lawan kalimatnya, maka saya mempunyai harapan bahwa kata tidak yang berarti negasi tidak digunakan dalam kalimat tersebut. Karenanya kalimat yang saya harapkan adalah sesuatu yang diperbolehkan.

Jika sudah mendapatkan sesuatu yang diperbolehkan, maka.....loh kok masih ada lawannya...Wah gimana ini...Sekian aja saya masih mengharapkan ada kata yang tidak ada lawannya...kira-kira ada nggak ya sebuah kata atau kalimat yang tidak mempunyai lawan?

Hayo kalau bisa nebak, saya kasih nilai A.....

Minggu, 18 Januari 2009

Habis fitness dengan bule...



Tulisan ini saya buat untuk menghabiskan kepenatan saya, karena selama satu hari penuh nggak keluar sama sekali dari kamar...wuih rasane capek semua. Ternyata tubuh manusia itu mempunyai Natural Law (hukum alam) yang akan berjalan dengan bangunan logika yang dia bangun sendiri dalam sistem tubuh manusia.

Laiya...masak sehari sebelum saya tidak keluar dari kamar aja, rasanya capek banget, ingin segera istirahat fulllll...tetapi setelah tubuh ini saya biarkan istirahat seharian ternyata capek juga, bukan karena aktivitas akan tetapi karena seharian itu istirahat, tidur, mlungker (red; jawa) di kamar, kalau mau keluar itupun hanya makan dan minum atau ke kamar mandi, atau bermain gitar sendirian ditemani dengan suara angin dari luar yang kelihatan membawa udara dingiiiiin sekali, karena pada saat itu suhunya sekitar minus 24 derajat selsius. Wuuuh, coba bayangkan, di Malang aja (terutama di Batu) yang selama ini pernah didatangi oleh saya suhunya hanya plus 18 atau mungkin lebih sedikit, itu menurut saya dulu sudah betul-betul dingin. Nah, ternyata di sini di kota Bloomington, Indianapolis tepatnya di apartemen Bradfoard Place udaranya lebih dingiiiiiin, sampai-sampai saya berpakaian rangkap lima.

kembali ke persoalan di atas bahwa manusia mempunyai hukum alam yang secara otomatis "on" dan otomatis "off" tentu saja harus pintar-pintar kita mengolah tubuh kita, kata pepatah "di dalam tubuh yang sehat terdapat, jiwa yang kuat" eehh terbalik apa nggak ya "di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat" wes pokoknya begitulah kirannya.

Memang selain mempunyai akal (al-Aql) dan jiwa (al-Nafs) yang bersifat inmateriil, manusia memang sudah dikaruniai Tuhan jasad (al-jasad/al-jism) yang bersifat materiil. Karena sudah include begitu, maka sepantasnyalah "kita orang" menjaga karunia yang sudah diberikan Tuhan kepada kita semua ini sebagai rasa syukur kita kepadaNya.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berorientasi pada tiga dimensi manusia tersebut, yaitu pengembangan akal, jiwa dan jasad. Akal digunakan untuk berpikir, dia akan menunjukkan logika kehidupan ini secara normal, dia akan dapat mengendalikan dan mengarahkan nafsu angkara murka (al-Nafs al-Lawwamah) menuju nafsu ketenangan (al-Nafs al-Mutmainnah).

Nafsu sendiri harus terus diarahkan dan dididik kearah yang positif. Bagaimana cara pemberdayaan jiwa (al-Nafs) itu sendiri. Para Mistikus Jawa biasanya melakukan ritual-ritual tertentu atau biasa disebut "nglakoni", sedangkan Mistikus Islam biasa melakukan suluk lewat jalan yang standar (Tariqah al-Mu'tabarah) artinya jalan yang sudah pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. Lelaku ini digunakan untuk menyeimbangkan dan menyadarkan perilaku materiil manusia yang selama ini melalaikan kehidupan sejatinya manusia.

Manusia banyak lalai akan eksistensi dirinya sebagai makhluk spiritual, makhluk yang sebelum dilahirkan ke muka bumi ini sebagai makhluk spiritual yang dijaga (dirumat; jawa) selalu oleh Tuhan. Manusia merupakan pancaran Tuhan, dia adalah bagian Tuhan dan dia pasti akan kembali kepadaNya dalam bentuk semula yaitu spiritual (al-Ruh). Manusia sudah bersua dengan Tuhannya, dan dia sudah diberikan pengetahuan olehNya. Hanya saja ketika dia lahir dalam bentuk jasadiyah dia harus melihat kesejatian dirinya sudah dibungkus oleh jasad, materi yang juga ternyata harus dirawat sampai jasad itu tidak kuat dan kembali kepadaNya.

Kalau begitu apakah jasad adalah malapetaka manusia...? Tampaknya tidak, karena itu adalah karunia Tuhan. Memang secara esensial manusia akan terbebas ketika dia membebaskan dirinya dari belenggu dunia (materi). Akan tetapi, karena Tuhan sudah memberikan jasad...ya harus kita gunakanlah sebaik-baiknya karena Tuhan juga menunjukkan cara-cara kepada manusia untuk memberdayakan jasad manusia.

Waduhh tak terasa, Pak Saat sudah adzan Maghrib....sudah ya...nich jasad saya sudah capek habis olah raga dan luapaaaaaaaar banget. Nanti aja diteruskan lagi....wong ini hanya untuk menghilangkan capek saya kok....Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh....

Obrolan dengan diri sendiri ini ditulis di kantor Bradfoard setelah fitness, jam 5 sampai 5.41